Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) menggelar kegiatan Pendampingan Penyusunan Proposal Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat tahun pendanaan 2026, pada Rabu, 12 November 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas dan daya saing proposal dosen agar mampu lolos pendanaan tingkat nasional.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UNISSULA, Dr. Mochamad Abdul Basir, M.Pd. yang dalam sambutannya menekankan pentingnya budaya riset dan pengabdian yang berkelanjutan di lingkungan kampus. “Tahun 2026 Kemdiktisaintek membuka skema pendanaan yang lebih beragam dari tahun sebelumnya. Ini peluang besar bagi para dosen UNISSULA. Karena itu, manfaatkan pendampingan ini dengan maksimal agar proposal yang disusun betul-betul kompetitif dan siap bersaing secara nasional, serta semakin banyak proposal UNISSULA yang lolos pendanaan 2026,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor I juga menghimbau para dosen untuk meningkatkan kolaborasi lintas bidang dan memperkuat networking dengan berbagai mitra strategis guna mendukung relevansi dan dampak riset maupun program pengabdian yang diusulkan. Para dosen diharap untuk lebih aktif menjalin kemitraan lintas universitas, pemerintah daerah, maupun industri guna memperkuat relevansi dan dampak hasil penelitian.
Kegiatan pendampingan diikuti oleh dosen UNISSULA dengan menghadirkan dua narasumber nasional yang ahli di bidangnya yaitu (1) Prof. Dr. Ir. Henny Pratiwi Adi, S.T., M.T., IPU (Bidang Penelitian) dan (2) Prof. Dr. Achmad Buchori, S.Pd., M.Pd. (Bidang Pengabdian kepada Masyarakat), serta dipandu oleh Moderator Prof. Dr. Siti Thomas Zulaikhah, M.Kes.
Pada sesi pertama, Prof. Henny menyampaikan materi mengenai strategi penyusunan proposal penelitian kompetitif. Beliau menyampaikan beberapa poin penting yaitu pentingnya kebaruan (novelty) yang jelas dalam setiap proposal penelitian; kesesuaian topik dengan roadmap penelitian Prodi dan Universitas, serta klaster riset nasional; penguatan metodologi yang terukur, logis, dan memiliki tahapan kerja yang realistis; penyusunan anggaran yang efektif dan sesuai dengan luaran yang dijanjikan; penjelasan luaran wajib dan tambahan, seperti publikasi internasional, HKI, atau prototipe. Prof. Henny juga menekankan bahwa proposal yang baik harus menunjukkan urgency, feasibility, dan impact yang kuat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan masyarakat.
Pada sesi kedua, Prof. Buchori memberikan materi terkait penyusunan proposal pengabdian masyarakat yang berorientasi pada keberlanjutan. Poin inti materi yang disampaikan antara lain: identifikasi masalah masyarakat yang berbasis evidensi, bukan asumsi; kolaborasi dengan mitra utama, seperti sekolah, pesantren, UMKM, desa binaan, atau komunitas lokal; pentingnya model pemberdayaan masyarakat yang berorientasi solusi jangka panjang, bukan kegiatan seremonial; luaran pengabdian yang dapat berupa modul pelatihan, produk, teknologi tepat guna, publikasi, hingga video edukasi; dan penyusunan proposal yang selaras dengan program prioritas nasional dan SDGs.

Prof. Buchori menegaskan bahwa pengabdian masyarakat harus mampu memberikan transformasi nyata.“Kegiatan pengabdian harus memberi dampak yang terukur, bukan hanya kegiatan sekali selesai. Dosen harus merancang program yang memberdayakan, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Di sela pemaparannya, Prof. Henny yang sekaligus sebagai Kepala LPPM UNISSULA menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menghasilkan proposal berkualitas tinggi. Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah proposal penelitian dan pengabdian yang berhasil mendapatkan pendanaan pada tahun 2026, sekaligus memperkuat kultur akademik di UNISSULA.
